Select Page

Batara Surya Harapkan Walikota Kedepannya Agar Mengeksekusi Gagasan

Batara Surya Harapkan Walikota Kedepannya Agar Mengeksekusi Gagasan

Makassar, IS– Pakar perencanaan wilayah dan kota Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Prof. Dr. Ir. Batara Surya, M.Si menyoroti penataan kota seperti kemacetan dan banjir Yang dampaknya tentu mengganggu perputaran ekonomi di kota ini.

Dalam Ngobrol Politik (Ngopi) yang dilakasanakan oleh Komunitas Wartawan Politik Sulsel, Batara Surya mengaku telah beberapa kali menyampaikan solusi terhadap persoalan kemacetan dan banjir ke Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Salah satunya adalah bangunan- bangunan atau pemukiman yang ada di sekitar bantaran sungai harus siap untuk ditata.

Batara menyebut pemukiman warga di dua sungai ini harus bisa direlokalisasi dengan membangun rumah susun (rusun).”Di Makassar ada dua sungai besar yang marak sekali pemukiman kumuh di sekitar bantaran, yakni Sungai Tallo dan Jeneberang. Dalam tata ruang kota, tidak ada satupun teori bahkan aturan yang membenarkan pemukiman dibangun di bantaran sungai, ”katanya.

Di Makassar sendiri dengan jumlah penduduk mencapai 1,5 juta jiwa, sebut Batara sebanyak 127 sebaran pemukiman kumuh untuk tahun 2019. Jumlah itu meningkat jika dibanding tahun 2017 yang hanya 103 titik. “Makanya, kita berharap Walikota kedepan tidak hanya mampu menciptakan gagasan, tapi bagaimana mengeksekusi gagasannya itu,” terangnya.

Kemudian persoalan kemacetan, lanjut Batara, di beberapa titik pusat Kota Makassar banyak bangunan yang beralih fungsi dengan menyalahi izin. Misalnya saja pusat perbelanjaan atau mal di kawasan pendidikan. Belum lagi hotel yang berdiri di area perumahan.

“Bangunan-bangunan yang beralih fungsi inilah yang menjadi penyumbang kemacetan karena keterbatasan lahan parkir misalnya. Sehingga terjadi penyempitan jalan karena banyaknya kendaraan yang memilih parkir di bahu jalan,” terangnya.

Sementara itu kita pernah dengar Program Lorong Garden era mantan Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto (Danny) sebagai implementasi yang keliru dari konsep urban farming.

Itu disampaikan guru besar Universitas Bosowa ini dalam diskusi bertema “Bedah Program Tata Kota dan Perumahan Rakyat Pasangan Marhaban” di Café Respublica, Pettarani, Rabu (17/6).

“Menerjemahkan urban farming. Ada dua konteks, ada skala kawasan dan rumah tangga. Jadi memperbaiki lorong, lalu menanam cabe dan tomat di atas saluran drainase, itu implementasi yang keliru,” kata Batara.

Menurutnya, Urban Farming seharusnya tidak memanfaatkan lorong yang merupakan jalur transportasi publik. Urban Farming akan lebih bermanfaat jika masyarakat memanfaatkan ruang di rumah masing-masing untuk bertani.

“Urban farming tidak menggunakan media tanah. Bisa rumah penduduk yang digunakan. Jadi ada dalam implementasi yang kita lakukan, bukan pada posisinya, sehingga tidak menyelesaikan masalah,” cetus Batara.

Dalam kacamatanya sebagai akademisi, Batara menilai seorang walikota seharusnya tidak perlu mengejar banyak keberhasilan semu. Cukup membenahi masalah-masalah krusial yang pokok, maka sistem tata kota akan menjadi lebih baik.

“Makassar masalah utamanya adalah di pengendalian pemanfaatan ruang. Ini yang perlu dibenahi ke depan. Keberhasilan seorang walikota sebenarnya tidak perlu terlalu banyak. Cukup mampu menyelesaikan masalah transportasi, minimal mengurangi kemacetan. Kedua, mampu mengurangi masalah banjir. Ketiga, mampu menangani pemukiman kumuh. Keempat, mengurangi jumlah masyarakat miskin dan mampu menyiapkan perumahan yang layak,” imbuhnya. (*)

About The Author

Redaksi

Inspirasi Sulawesi. Memberikan informasi yang berimbang kepada publik

Leave a reply