Select Page

Advertisement

Opini Di Ibukota, Jubir NH-Aziz Temui Tu Lolona Sulawesi

Opini Di Ibukota, Jubir NH-Aziz Temui Tu Lolona Sulawesi

Jakarta, Inspirasisulawesi.com – Arman Mannahawu, Jubir NH-Azis, Jumat (8/6/2018) dini hari. Mengalami perjalanan sekira 1 (Satu) jam dari Kalimantan Timur, akhirnya roda pesawat melindas jalur pendaratan Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan selamat setelah di atas awan mengalami getaran yang sempat berbisik, ‘Tuhan setiap saat menegurmu sebelum engkau berpulang berbuatlah yang baik-baik’.

Tiba di Ibukota dan tunaikan amanah kantor, dengan mengawal sebuah proses sidang mencari keadilan, saya tetap saja teringat dengan kampung halaman Sulawesi Selatan. Kepikiran di Ibukota, apalah saya ini mampu perbuat seorang anak dari janin petani yang mampu mengenal para pendekar kebijakan pemerintah pusat, tapi ironi karena saya tidak dikenal oleh pemangku kebijakan itu.

“Sudahlah… saya cukup punya kawan dan sahabat aktivis semasa di kampus dan kontak selulernya masih saya simpan. Bolehlah saya temui mereka, setidaknya sebagai insan yang sama-sama lahir di Sulawesi Selatan tetap terpatri dalam jiwa untuk berbuat kecil besar ataukan sedikit atau banyak untuk kampung halaman tercinta,” bisikku dalam hati.

Akhirnya saya di sebuah cafe, ketemu dengan mantan Ketua Badko HMI SulSelRa (Sulawesi Selatan dan Tenggara), juga aktivis yang pernah mengenakan jaket merah di Universitas Hasanuddin (UNHAS), tokoh muda yang masih single kelahiran Watampone, Abdul Razak Said, saya akrab memanggilnya Puang Acha.

Di tempat yang sama, saya ketemu pula dengan aktivis jaket Hijau, bersamanya sampai hari ini bangga pernah mengenakan Alamamater Hijau Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan miliki memorial di sepanjang Jalan Urip Sumiharjo-Makassar.

Sebelum poros jalan itu memiliki pembatas tengah, kami bersama warga UMI sering menjadi relawan pembatas tengah jalan sambil menyampaikan unek-unek masyarakat pada saat itu, Muh. Balyah kelahiran Watansoppeng Ketua Komisi Organisasi DPP AMPI, Ketua O panggilan akrab saya padanya.

Kami larut dalam diskusi dan saya posisikan diri banyak mendengar, setelah saya “laporkan” kondisi kampung halaman yang sementara bergeliat mengalami dinamika peradaban, regenerasi pemerintahan (Pilgub Sulsel), dan Inshaa Allah akan lahirkan pemimpin yang amanah dan meneguhkan pembangunan Sulawesi Selatan di esok hari yang lebih baik dan maju.

Diskusi membuatku sesekali menyela, entah itu saya bertanya kadang pula saya tawarkan pernyataan, namun pada akhirnya Puang Acha membuat resume kecil dari diskusi itu. “Kiblat aktivis adalah bukan hanya pada wilayah pilihan jatuh pada siapa, tetapi senantiasa meletakkan sikap pada sebuah nilai, nilai yang memapah ekspektasi warga untuk Sulsel yang lebih baik dan maju, berani membuka tabir Sulawesi Selatan (yang) Baru. Segenap pasangan calon yang maju bertarung minimal memberikan kita gambaran bagaimana Sulawesi Selatan tidak pernah pelit melahirkan benih-benih unggul kaki tangan peradaban Indonesia,” urai Acha.

Saya perhatikan jarum jam sudah tegak berdiri (pukul 00.01 wib), sebelum kami beranjak tinggalkan cafe, saya yang dari tadi telah ajukan pertanyaan dan pernyataan segera ungkapkan ajakan pada dua “tu Lolona Sulawesi” ini.

“Puang Acha dan Pak Ketua, ingat-ingatki pulang kampung apalagi mau Lebaran Idul Fitri, ayo Sama-Samaki Bangun Kampung,” ajakan singkat saya pada mereka dan disambut “Kita tidak akan pernah berpisah dan selalu bersama Bung Jubir,” jawab mereka sambil mengajak berfoto acungkan 1 jari. (Arman)

Advertisement

About The Author

Redaksi

Inspirasi Sulawesi. Memberikan informasi yang berimbang kepada publik

Leave a reply